Kontras, Jatim Urutan Ketiga Aksi Radikalisme dan Kekerasan Berbasis Agama

Kontras, Jatim Urutan Ketiga Aksi Radikalisme dan Kekerasan Berbasis Agama

260
0
BERBAGI
Andy Irfan J. - etua Badan Pengurus Kontras Surabaya, Kasubdit I Dir. Intelkam Polda Jatim AKBP Asmoro, Ketua Komnas HAM Dr. Imdadun Rahmat, Rahmad Efendi, Kepala Kanwil Kemenag Prov.Jawa Timur
.

Surabaya (M.Sindoraya) – Menurut catatan Kontras, Jatim adalah Provinsi ketiga setelah Jabar dan Banten terbanyak dalam kasus Radikalisme dan Kekerasan berbasis Agama, tutur Andy Irfan J. Ketua Badan Pengurus Kontras Surabaya, saat gelaran Dialog tentang Radikalisme dan Kekerasan berlatar belakang Agama di Jawa Timur, Jumat, 27 Januari 2017 di Hotel Novotel Surabaya.

Dalam hal ini Kontras Surabaya mengundang Ketua Komnas HAM Dr. Imdadun Rahmat, Kepala Kemenag Effendy dan Kasubdit Intelkom Polda Jatim AKBP Asmoro, sebagai nara sumber acara tersebut.

Dalam Paparannya, Andy menegaskan bahwa banyaknya kasus-kasus Radikalisme dan Kekerasan yang sangat lambat untuk ditangani aparat, dalam hal ini pihak kepolisian. Dan hal itu berbanding terbalik dengan penanganan kasus Terorisme yang sangat cepat responnya.

Andy Irfan, juga menyampaikan, kasus kekerasan dan radikalisme agama, seruan kekerasan selalu dimulai dengan ujaran kebencian (hate speech) dan pengujatan (blasphemy) di panggung-panggung publik.“Kesimpulan tersebut diperoleh dari laporan penelitian kekerasan dan radikalisme agama di Jawa Timur tahun 2016. Dan, meluasnya potensi kekerasan dan radikalisme berlatarbelakang agama belum diimbangi dengan kerjasama lintas sektoral dalam upaya pencegahan ”.

” Kontras mencatat, salah satu kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang paling intens dalam lima tahun terakhir ini adalah kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia berlatarbelakang hak kebebasan beragama dan berkeyakinan,” terang Andy.

“Sejumlah komunitas minoritas terancam hak-haknya yang paling mendasar hanya karena meyakini suatu keyakinan yang berbeda dengan masyarakat secara mainstream,” ungkapnya.

” Sebagai contoh Kasus Syah Sampang, Kasus Ahmadyah, Kasus penutupan Gereja HKBP dan Gereja Yasmin, dll,” tambahnya.

Sikap intoleran, anti keberagamaan, dan lemahnya penghormatan atas hak kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah wilayah hulu, yang kemudian akan bermuara pada wilayah hilir, yaitu menguatnya tendensi kekerasan, radikalisme dan terorisme berlatangbelakang agama.

Pada periode Januari-Desember 2016, Kontras Surabaya mencatat 10 peristiwa intoleransi dalam bentuk fatwa sesat terhadap Gafatar, dakwa dan syiar kebencian, aksi demo dan terjadi penangkapan terduga teroris terjadi 7 peristiwa dengan jumlah orang yang ditangkap 13 orang yang tersebar dibeberapa daerah di Jatim.

Kasubdit I Dir. Intelkam Polda Jatim AKBP Asmoro mewakili undangan Kapolda menjelaskan, dalam sebuah kasus harus pasti perbedaan dalam penanganannya. Lambatnya penanganan sebuah kasus dikarenakan lambatnya informasi yang didapat dari masyarakat mengingat poteksi konflik Radikalisme dan kekerasan untuk saat ini sudah dalam hitungan detik bukan menit apalagi hitungan jam. Maka dari itu kami berharap masyarakat semakin jeli melihat situasi keamanan di wilayahnya dan segera memberi informasi kepada pihak aparat yang berwenang apabila ada sinyalir tindakan yang membahayakan.

Dalam dialog yang diikuti lebih dari seratus peserta dari berbagai kalangan ini berlangsung hangat dan banyak pembahasan tentang masalah-masalah Radikalisme dan Kekerasan Berbasis Agama, dan juga mencari bagaimana pemecahannya sehingga kedepan tidak terjadi hal itu kembali.

 

(eli)

LEAVE A REPLY