KOORDINATOR TPDI : E-KTP ” KORUPSI DALAM KORUPSI “

KOORDINATOR TPDI : E-KTP ” KORUPSI DALAM KORUPSI “

321
0
BERBAGI
PETRUS SALESTINUS, KOORDINATOR TPD dan ADVOKAT PERADI

 

NTT (M.Sindoraya) – Mega korupsi dalam proyek pengadaan E-KTP nasional yang dilakukan di DPR oleh bebarapa aktor intelektual seperti Irman (Terdakwa I), Sugiharto (Terdakwa II), Andi Agustinus als Andi Narogong, Isnu Edhi Wjiaya, Diah Anggraini, Setya Novanto dan Dradjat Wisnu Setyawan, ternyata tidak hanya menjarah uang negara sebesar Rp. 2.558.000.000.000,00 akan tetapi yang unik dan bakal muncul perkara baru adalah jatah hasil korupsi yang disebut telah dibagikan kepada sejumlah pihak dengan angka yang fantastic itu ternyata ada sebagian nama dicatut oleh Andi Narogong.Demikian oleh Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI),Petrus Salestinus, Kamis ( 15/03/2017) di Jakarta melalui pesan yang diterima media.

Dikatakannya, Salah satu korban pencatutan nama yaitu Melchias Markus Mekeng tidak hanya telah membantah keterangan Andi Narogong yang diketahuinya dalam Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum KPK, akan tetapi Melchias Markus Mekeng juga akan menuntut pertanggungjawaban secara pidana terhadap Andi Narogong dan kawan-di BARESKRIM POLRI, karena telah mencatut namanya sebagai penerima uang haram tersebut.

Ketua TPDI mengatakan, memang proses hukum atas kasus dugaan korupsi proyek E-KTP yang merugikan keuangan negara Rp. 2.558.8000.000.000, baru mengahadapkan dua orang Terdakwa dari unsur Kementerian Dalam Negeri yaitu Terdakwa I Irman dan Terdakwa II Sugiharto, sementara pelaku intelektual dader yang lain masih di parkir KPK untuk diproses pada tahap berikutnya sambil melihat perkembangan sidang Terdakwa I dan Terdakwa II. Publik belum bisa memastikan apa yang menjadi target Jaksa Penuntut Umum KPK dengan membangun konstruksi dakwaan yang cukup taktis yaitu mengedepankan pelaku lapangan (Irman dan Sugiharto) atau pihak yang memperoleh keuntungan dari tindak pidana korupsi seperti Terdakwa I dan Terdakwa II, sementara Aktor Intelektual/Intelektual Dadernya meskipun sudah dibuka dalam Surat Dakwaan Terdakwa I dan Terdakwa II, akan tetapi masih disimpan atau masih dalam penyidikan. Begitu pula dengan puluhan nama lin meskipun belum jelas benar atau belum diperiksa atau di BAP akan tetapi identitasnya sudah dibuka habis dalam Surat Dakwaan.

Petrus Salestinus mengatakan, Keberanian JPU KPK mengobral banyak nama sebagai penikmat atau orang yang mendapat keuntungan dari hasil korupsi, meskipun sebagian dari nama-nama yang disebut penerima dana itu ada yang belum pernah diperiksa oleh KPK seperti Marzuki Ali dan kawan-kawan. Tanpa KPK menguji kepastian  atau kebenaran kepada pihak-pihak yang dituduh menerima.

Lanjutnya, Marzuki Ali dan Melchias Markus Mekeng  adalah nama-nama yang menyatakan tidak pernah menerima dan tidak kenal dengan Andi Narogong sehingga telah membantah melalui media masa. Melchias Markus Mekeng bahkan menyatakan akan menuntut pertanggungjawaban Andi Narogong bahkan siap membantu KPK mendorong KPK mengungkap tuntas permainan anggaran negara dalam proyek pemerintah yang memerlukan persetujuan DPR seperti E-KTP ini. Ini namanya “korupsi dalam korupsi” dimana uang korupsi lantas dikorupsi lagi oleh para Aktor Intelektual dengan mencatut nama-nama Anggota DPR yang memiliki jabatan strategis untuk menaikan angka hasil pencatutan.Akibatnya sejumlah tokoh yang namanya disebut sebagai penerina tetapi tidak pernah tau dan/atau tidak pernah terima uang hasil korupsi tsb. terpaksa harus mengambil langkah hukum dengan cara melaporkan pihak yang mencatut namanya sebagai telah memfitnah ke Bareskrim Polri.

“Marzuki Ali mantan Ketua DPRI dari Partai Demokrat menjadi salah satu korban fitnah telah melaporkan Nazaruddin dan Andi Narogong sebagai pelaku fitnah dan akan disusul dengan langkah hukum oleh Melchias Markus Mekeng, mantan Ketua Banggar periode 2010-2012, sebagai upaya untuk membantu KPK mengungkap modus, pola dan sistem korupsi yang terjadi di DPR, yang melumpuhkan fungsi kontrol DPR menjadi lumpuh layu tidak berdaya,” ucap anggota Advokat Peradi ini.

(nga)

 

LEAVE A REPLY