ERDC 2017 : Antisipasi Gempa dengan Bangunan Tinggi Tahan Gempa

ERDC 2017 : Antisipasi Gempa dengan Bangunan Tinggi Tahan Gempa

169
0
BERBAGI

 

Surabaya (M.Sindoraya) – Kapan bencana alam datang siapa yang tahu, setiap orang tidak menghendaki datangnya gempa. Namun, hal ini selayaknya diantisipasi sejak dini agar tidak membuat korban berjatuhan. Hal ini menjadi salah satu latar belakang Himpunan Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar kompetisi ‘Earthquake Resistance Design Competition’ (ERDC) 2017. Kompetisi ini merupakan bagian dari  ‘Petra Construction Expo’ (PEC) dan mengangkat tema “Prepare Because We Care”, dengan adanya kegiatan ini semoga para mahasiswa Indonesia tergerak untuk peduli pada kondisi bangunan dan dunia sipil. Konsep lomba ini berfokus pada bagaimana seorang kontraktor membuat bangunan tinggi yang tahan terhadap gempa.

 

Jika gempa biasanya terjadi hanya dalam waktu beberapa detik, maka peserta diajak untuk membangun bangunan tinggi yang tahan beberapa waktu terhadap gempa. Jadi, bangunan tersebut dapat menyelamatkan kehidupan manusia yang ada di dalam bangunan tersebut. Hal ini timbul dari fenomena banyaknya bangunan tinggi yang mudah sekali runtuh seketika gempa terjadi, akibatnya jutaan manusia menjadi korban. “Gempa di Taiwan beberapa waktu lalu misalnya, saat gempa terjadi, bangunan tinggi di Taiwan seketika runtuh saat itu juga sehingga manusia di dalam bangunan tersebut tidak ada waktu untuk menyelematkan diri. Kami ingin membuat sebuah perubahan, kami ingin menciptakan bangunan tinggi dengan struktur yang berkualitas,” urai Jesika selaku Ketua Panitia ‘Earthquake Resistance Design Competition 2017’.

 

Bagaimana cara membuat bangunan tinggi yang berkualitas dan tahan gempa? Dalam kompetisi ini, peserta dituntut untuk fokus dalam dua poin utama yakni pada struktur bangunan dan rancangan anggaran bangunan (RAB). Peserta diajak untuk membuat struktur bangunan dengan bahan yang kuat, desainnya bagus, dan cara yang tepat. Selain itu, rancangan anggaran bangunan ini menjadi penting karena kontraktor yang profesional adalah mereka yang membangun sebuah bangunan dengan anggaran yang tepat, benar, dan tidak curang. Pada akhirnya, seorang kontraktor akan membangun bangunan tinggi yang paling tidak dapat menyelamatkan manusia ketika terjadi gempa, bangunannya tidak mudah runtuh.

 

Secara garis besar, terdapat dua tahap dalam kompetisi ini, yakni babak eliminasi (24-25/3) dan babak final (20-23/4). Awalnya, terdapat 53 tim (1 tim maksimal 3 orang) dari mahasiswa seluruh Indonesia yang mendaftar. 53 tim yang mendaftar ini ada yang berasal dari NTB, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jogjakarta. Tim ini pada awalnya diminta untuk mengirim maket sebuah bangunan tinggi dengan luas 20×20 dan 12 lantai. Setelah itu, pada tahap eliminasi, maket tersebut akan diuji menggunakan mesin getar. Tujuannya untuk menguji apakah bangunan tersebut tahan gempa. Saat diuji dengan mesin getar, setiap lantai genap bangunan tersebut diberi beban sebesar 750gram dan diuji dengan 3 level frekuensi getaran berbeda. Besaran frekuensi getaran ini yakni 1,3Hz selama 20 detik, 1,83Hz selama 30 detik, dan 2,167Hz selama 40 detik. Jika lolos ketiga frekuensi ini, maka diuji kembali dengan tanbahan beban sebesar 1kg. Jika bangunan tersebut tidak runtuh, maka bangunan tersebut dianggap tahan gempa.

 

Hanya ada 12 maket yang lolos pada tahap eliminasi dan melaju ke babak final. Babak final ini diadakan pada tanggal 20-23 April 2017 di Exhibition Center lantai 6 Galaxy Mall Surabaya. 12 tim yang lolos ini berasal dari Universitas Kristen Petra, Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Institut Teknologi Nasional Malang, dan 17 Agustus 1945 Surabaya. Pada babak final, 12 tim ini dituntut untuk membuat maket bangunan dengan berat maksimum 160 gram, bangunannya minimal 8 lantai dan maksimal 15 lantai dengan ketinggian maket 900 mm dengan jarak antar lantai mencapai 60 mm. Saat final, peserta hanya akan diberi waktu selama sembilan jam untuk membuat maket bangunan dan diberi modal uang sebesar 1 Milyar rupiah dalam bentuk cek (virtual money) oleh panitia. Uang ini digunakan peserta untuk membeli bahan-bahan pembuatan bangunan, panitia menyediakan tempat jual bahan bangunan tersebut. Bahan tersebut adalah kayu balsa, triplek dan lem. Uniknya, peserta diberi tantangan pada babak ini. Setiap beberapa waktu sekali, panitia akan memberikan berita tentang harga pembelian bahan bangunan. Ketika itu, peserta diajak untuk berpikir dan menganalisis apakah saat itu saat yang tepat untuk membeli bahan bangunan.

 

Pada babak final ini, terdapat kriteria penilaian yang lebih ketat dari sebelumnya. Pemenang akan ditentukan dari ketahanan bangunan setelah diuji mesin getar. Frekuensi getaran sama seperti tahap eliminasi. Lalu, dilihat bagaimana hasil anggaran yang dirancang, berat bangunan, dan penilaian juri atas presentasi akhir setelah pembuatan maket. Semua nilai tersebut akan dihitung dan dirata-rata untuk menemukan tim mana yang memperoleh skor tertinggi. Ada tiga juara nantinya, Juara 1 berhak memperoleh uang tunai sebesar 3,5 juta rupiah. Sedangkan, Juara 2 memperoleh uang tunai sebesar 2 juta rupiah dan Juara 3 dengan hadiah sebesar 1 juta rupiah, ketiganya juga memperoleh tropi dan sertifikat. “Saya ikut lomba ini untuk memacu diri bersaing dengan mahasiswa sipil di indoensia. Ingin membuat bangunan yang tahan gempa untuk masa depan. Harapannya, Indonesia memiliki bangunan tinggi yang tidak mudah runtuh”, ungkap Theo salah satu peserta dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(nawi)

LEAVE A REPLY