Inovasi Pangan, FTP UKWMS Gelar NFTC 2017

Inovasi Pangan, FTP UKWMS Gelar NFTC 2017

287
0
BERBAGI
Ir. T. Dwi Wibawa Budianta , MT., selaku Wakil Dekan I FTP UKWMS saat menyampaikan kata sambutan dalam NFTC 2017
.

 

Surabaya (M.Sindoraya) – Negara Indonesia memiliki beraneka ragam bahan pangan nabati maupun hewani yang dapat diolah menjadi berbagai produk, namun inovasi dan pemanfaatan bahan pangan tersebut masih kurang maksimal dan kurang memperhatikan nilai gizi dalam produk tersebut. Keterbatasan pengetahuan mengenai bahan pangan yang ada merupakan suatu masalah yang harus diatasi sehingga masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan bahan tersebut dengan baik dan dapat menghasilkan produk yang inovatif serta bergizi tinggi. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan bahan pangan yang ada untuk menghasilkan produk pangan yang lebih bervariasi dan berkualitas serta bergizi tinggi. Adanya produk pangan yang bervariasi dan bergizi tinggi dapat meningkatkan daya saing produk pangan Indonesia terhadap produk pangan dari luar negeri, sehingga mengurangi ketergantungan akan produk pangan impor.

Melihat fenomena tersebut, National Food Technology Competition (NFTC) 2017 hadir kembali dengan mengangkat tema Inovasi Produk Pangan dan Gizi untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan Nasional di Masa Depan’. NFTC 2017 merupakan kegiatan seminar serta kompetisi poster ilmiah dan karya tulis ilmiah tahunan skala nasional yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FTP UKWMS). “Acara ini juga sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa di bidang teknologi pangan terkait dengan permasalahan yang diangkat melalui seminar, kompetisi poster ilmiah, dan kompetisi karya tulis ilmiah,” ujar Steven Adiputra selaku Ketua BEM FTP UKWMS. Kompetisi ini bertujuan agar mahasiswa dapat menuangkan kreativitas yang berupa ide, gagasan, dan pendapat mengenai tema yang diangkat. Tak ketinggalan, ada pula seminar nasional yang melibatkan kalangan praktisi dan akademisi pangan.

Foto 1 : Ki-ka Michellia Renata, Andrew Hartono dan Gede Tuahta Sisean saat mendemokan proses pembuatan Sereal Sarapan Beras Hitam-Pisang Mas
foto 2 : ki-ka Damayanti, Stephanie Wibisono dan Rebecca Natalia saat proses pencampuran adonan untuk membuat Mie Berbahan Dasar Daun Kelor
foto 3 : ki-ka Grace Smuargo, Dina Pujianti dan Rebcca Natalia saat presentasi sekaligus mendemokan pembuatan Bakso Bengkuang
Foto 4 : ki-ka Stephanie Wibisono bersama Helena Anna mendemokan proses penggilingan adonan dalam pembuatan Mie Berbahan Dasar Daun Kelor

Ada 9 tim yang mengirimkan karya ilmiah, 15 tim pembuat poster yang berasal dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dari kesuluruhan peserta tersebut yang berhasil masuk ke babak final adalah perwakilan dari Universitas Soegijapranata Semarang, Universitas Ma Chung Malang, Universitas Satya Wacana Salatiga serta dari UKWMS. Mereka semua hadir dengan membawakan contoh olahan pangan hasil penelitian mereka untuk dicicipi pada pameran poster ilmiah dan Food Expo yang diadakan di Atrium Rotunda lantai 3 Mall Ciputra World Surabaya. “Beberapa yang paling unik dari karya-karya tersebut antara lain; Supir Kota (puding susu limbah biji kecipir untuk pannacota), susu jagung milcorn, Denjapi (dendeng jantung pisang), onde-onde bayam merah dan hijau, serta cookies kacang bulu,” ujar Steven menambahkan.

Melengkapi kegiatan NFTC, mahasiswa FTP UKWMS turut unjuk kebolehan mengolah bahan pangan dalam Food Expo. Sebanyak tiga topik juga dipertunjukkan cara pembuatannya seperti Mie dan Minuman Berbahan Dasar Daun Kelor, Bakso Bengkuang dan Sereal Sarapan Beras Hitam Pisang Mas. Helena, salah seorang anggota tim pembuat mie dan minuman dari daun kelor mengungkapkan, “daun kelor itu tidak hanya bermanfaat untuk mengusir hantu, tapi antioksidannya cukup tinggi. Bisa mencegah diabetes dan hipertensi, bahkan bisa menyembuhkan penyakit mengigau”.

Bakso Bengkuang merupakan alternatif cara makan daging yang bisa digabungkan serat, karena ternyata serat bengkuang sama tingginya dengan brokoli. “Selain menambahkan nilai gizi, bengkuang juga mengandung banyak vitamin,” tandas Grace saat mempresentasikan cara pembuatan bakso bengkuang. Terkait sereal flakes beras hitam pisang mas, rupanya ada alasan unik dibalik penggabungan keduanya. “Beras hitam kaya serat dan antioksidan, namun aromanya kurang disukai, makanya kami gabungkan dengan pisang mas yang aroma dan rasanya nikmat serta kaya vitamin,” ujar Andrew Hartono saat membuat sereal di hadapan para pengunjung mall. Pisang mas mengandung karotenoid yang juga berkhaziat sebagai antioksidan. Keunikan sereal ini adalah rasa buahnya yang alami dan langsung menyatu dalam flakes yang dihasilkan.

(eli)

LEAVE A REPLY