Menyikapi Jaksa Yulianto yang Merasa Takut dan Terancam dengan SMS Hary Tanoesoedibjo

Menyikapi Jaksa Yulianto yang Merasa Takut dan Terancam dengan SMS Hary Tanoesoedibjo

283
0
BERBAGI
Astri Joy Monita Huwae, SH (kanan)
.
.
.

 

Surabaya (M.Sindoraya) – Terkait Kasus SMS Hary Tanoesoedibjo kepada Jaksa Yulianto yang masuk dalam proses penyelidikan oleh Polri, menjadi viral di Medsos dan Media-media Online. Hal ini juga menjadi perhatian banyak pengacara, salah satunya Joy Monita Huwae, SH.

Dalam wawancara bersama Media Sindoraya, menurutnya, memang benar adalah hak setiap warga negara untuk dilindungi dari sebuah ancaman, tidak terkecuali apabila menimpa seorang Jaksa sekalipun.

Pertanyaannya Dimanakah letak acaman yang dilakukan Hary Tanoe terhadap jaksa Yulianto ? Dewasa ini Pengertian dan Pemahaman hukum di Indonesia sudah baik namun dalam praktek penalaran dan penerapan hukum bunyinya ” Kondisional “.

Mengapa saya katakan kondisional dikarenakan SDM setiap kita berbeda, partai politik kita berbeda dan yang paling penting kepentingan kita juga berbeda, Disitulah letak kondisional penerapan hukum terhadap kita berbeda.

Membesarkan masalah yang sebenarnya bukan masalah (hiperbola) dan merubah titik focus itu bukan penerapan ilmu hukum namun lebih tepat sastra perpolitikan Indonesia, jika pandai bermain kata dan pandai membuat panggung sandiwara bukan dengan baju penegak hukum tapi jadi aktor sinetron saja.

Tambah Monic pangilan sehari-harinya, Saya sebagai orang muda yang juga praktisi hukum sangat miris harus melihat dan menyaksikan sekelas jaksa Yulianto merasa ketakutan dan terancam dengan SMS Hary Tanoe yang sudah sangat jelas dalam setiap kalimatnya adalah sebuah “PENEGASAN” bukan ancaman.

Masa isi SMS semacam ini dibilang ancaman ;

“Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan.”

Kalau saya yang terima SMS semacam itu, sontak dalam hati dan pikiran saya “oh wong Iki nantang” orang ini menantang saya apakah saya sebagai penegak hukum jujur dan benar atau tidak, ujar Pengacara muda asli Surabaya berdarah Ambon ini.

(RS)

 

 

LEAVE A REPLY