Cegah Infiltrasi Kelompok Radikal, TNI Intens Sosialiasi

Cegah Infiltrasi Kelompok Radikal, TNI Intens Sosialiasi

212
0
BERBAGI

 

TERNATE (M.sindoraya) – Seiring dengan meningkatnya gerakan ISIS hingga menduduki Kota Marawi Filiphina sehingga negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Indonesia meningkatkan keamanan, guna mencegah adanya upaya infiltrasi maupun eksfiltrasi dari kelompok maupun simpatisan ISIS di Wilayah Indonesia.

Jajaran Kodim 1508/Tobelo melaksanakan berbagai upaya pencegahan, salah satunya melalui pendekatan dan sosialisasi terhadap masyarakat yang berada di pedalaman dan perbatasan, termasuk Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara (Malut), secara geografis terletak di bibir pasifik, dan secara historis memiliki jejak hubungan dengan nelayan Filiphina.

Diketahui, Morotai dan Filipina sejak dahulu sudah sering keluar masuk dan melaksanakan perdagangan. Oleh karena itu, Dandim 1508/Tobelo, Letkol Arh Herwin Budi Saputra, didampingi sejumlah pimpinan SKPD, Camat dan perangkat Desa di jajaran Pemkab Pulau Morotai, gencar melakukan pertemuan dan sosialisasi bahaya faham radikal.

Selain itu, mengantisipasi adanya upaya infiltrasi dari kelompok tersebut, khususnya ISIS dari Marawi Filiphina di Desa terluar dan terpisah seperti Pulau Rao, Pulau Ngele-Ngele, Pulau Galo-Galo, Pulau Koloray. Dalam setiap pertemuan dengan masyarakat, Dandim beserta sejumlah pejabat terkait memberikan pemahaman tentang jati diri Bangsa Indonesia yang dibentuk dalam keberagaman suku, ras dan agama serta pentingnya persatuan dan kesatuan antar seluruh komponen bangsa guna mempertahankan NKRI.

Negara saat ini sedang menghadapi dua ancaman nyata, pertama Faham Komunis, dimana sejarah telah mencatat PKI telah melakukan serangkaian pengkhianatan kepada Bangsa, dimulai dari Tahun 1926, 1948 dan 1965. Setelah vakum cukup lama, gerakan tersebut mulai muncul ke permukaan dan menyusun kembali kekuatan untuk memberontak kepada NKRI, serta mengganti Dasar Negara Pancasila menjadi Komunis. Mereka sengaja menggiring opini bahwa Pancasila sudah tidak relevan dengan kehidupan modern.

“Perlu diketahui bersama, Pancasila disusun berdasarkan semangat dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang merupakan jati diri bangsa, dan Pancasila selamanya akan tetap menjadi Ideologi NKRI yang tak lekang oleh zaman,” kata Dandim.

Yang kedua, adanya Faham Fundamentalis, yaitu faham yang berdasarkan agama tertentu untuk dijadikan sebagai dasar Negara. Kekalahan kelompok ISIS di Suriah, hingga terdesak dan menguasai Marawi di Filiphina, maka posisinya saat ini kian terpojok, serta berusaha melarikan diri ke Negara-Negara tetangga, termasuk Indonesia. Pulau Morotai sebagai wilayah yang berbatasan dengan Negara Filiphina patut diwaspadai sebagai sasaran Infiltrasi dari kelompok ISIS Filiphina.

Ia menambahkan, Kita perlu waspada dan siaga, saat ini aparat keamanan tengah meningkatkan pengamanan dengan melakukan patroli di daerah pesisir, dan pulau terpencil. “Dengan umlah wilayah yang sangat luas, serta personel maupun alutsista yang terbatas sehingga diperlukan peran serta dari seluruh masyarakat dalam mencegah wilayahnya disusupi kelompok radikal tersebut,” himabaunya.

“Dengan cara mewaspadai Nelayan-nelayan dari Filiphina, maka patut dilaksanakan pendataan warga baru dan pendatang, agar tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat, atau yang tidak sesuai dengan ajaran agama masing-masing, untuk segera melaporkan kepada aparat kemanan, baik TNI maupun Polri jika ada kegiatan yang mencurigakan,” katanya.

Sementara itu, Dandim 1508/Tobelo saat ditemui di ruangannya menyampaikan bahwa, kegiatan sosialisasi di wilayah-wilayah tersebut guna mengantisipasi adanya upaya penyusupan dari kelompok radikal. Selain itu, kita membangun early warning system (sistem peringatan dini), sehingga setiap adanya indikasi pergerakan dari kelompok-kelompok tersebut, dapat segera terdeteksi dan dapat diambil tindakan sesegera mungkin, guna menciptakan wilayah Morotai dan Halut yang kondusif.

(sdn)

 

 

LEAVE A REPLY