Taliabu dan Dua Wilayah ini Pernah Jadi Lokasi Latihan Teroris

Taliabu dan Dua Wilayah ini Pernah Jadi Lokasi Latihan Teroris

543
0
BERBAGI

 

TERNATE (M. Sindoraya) – Untuk menghadapi ancaman Terorisme dan Radikalisme, Tentara Nasional Indonesia (TNI) Komandan Resimen (Korem) 152/ Babullah Ternate membutuhkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista). Kata Danrem 152/Babullah Ternate Kolonel Inf Sachono kepada Media. Sindoraya Minggu (25/6).

Ia menambahkan, pihaknya sangat membutuhkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dalam mengantisipasi masuknya faham radikal dan terorisme. “Ada upaya untuk penambahan personel dan alutsista berupa artileri medan, tank dan pertahanan udara guna persiapan menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme,” katanya

Lanjut dia, pihaknya saat ini telah membangun kekuatan dengan penambahan personel di pos gabungan di daerah perbatasan, seperti Desa Sofi dan Wayabula di Pulau Morotai. Selain itu, TNI juga menggandeng berbagai organisasi Islam untuk membangun kerja sama secara intensif dalam memperkokoh semangat kebangsaan dan nasionalisme. “Penting dilakukan, karena adanya indikasi masuknya faham fundamentalis yang ingin menjadikan agama tertentu sebagai dasar negara,” ujarnya.

Menurut dia, kekalahan di Suriah membuat ISIS terdesak keluar, dan saat ini sedang berupaya menguasai Kota Marawi di Filipina Selatan. Namun, gempuran dari militer Filipina membuat posisi mereka terpojok serta berusaha melarikan diri ke negara-negara terdekat, termasuk Indonesia. Sehingga Pulau Morotai yang berbatasan dengan Filiphina patut diwaspadai sebagai sasaran infiltrasi (penyusupan) dari kelompok ISIS tersebut. “Kita semua perlu waspada, dan aparat keamanan saat ini pun siaga dengan meningkatkan pengamanan, serta melakukan patroli di daerah pesisir dan pulau terpencil,” jelasnya.

Dilanjutkan, dengan jumlah wilayah yang sangat luas, saat ini personel maupun alutsista maaih terbatas, maka diperlukan peran serta seluruh masyarakat untuk turut menjaga wilayah ini disusupi kelompok radikal tersebut. Upaya ini salah satunya, dengan cara mewaspadai nelayan-nelayan dari Filiphina. “Seluruh personel diinstruksikan untuk mewaspadai adanya organisasi yang mengarah ke khilafah di jalur Luwuk, Taliabu dan Buru Selatan. Tiga daerah itu pernah menjadi tempat pelatihan teroris,” ungkapnya.

Sementara itu, tambahan personil yang berada di Desa Sofi dan Galela juga merupakan jalur perdagangan dari Filipina yang perlu diwaspadai. “Amrozi pernah datang ke Morotai dan ditolak oleh masyarakat Pulau Morotai, saat ini TNI sangat mengapresiasi sikap masyarakat yang bersatu melawan faham-faham radikalisme itu,” tuturnya.

(sdn)

LEAVE A REPLY