Wayang Potehi, Ikon Akulturasi dan Toleransi

Wayang Potehi, Ikon Akulturasi dan Toleransi

45
0
BERBAGI
.
.
.

Surabaya – Universitas Surabaya bekerja sama dengan Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang menggelar Rembug Budaya dan Pergelaran Wayang Potehi. Rembug Budaya ini mengangkat tema “Upaya Pelestarian dan Pengembangan Wayang dengan Konsep Kreatif-Inovatif”. Acara yang dibuka oleh Saifulah Yusuf ini dilaksanakan pada Sabtu, 19 Agustus 2017 pukul 09.30-13.00 di Ruang Serbaguna Fakultas Hukum, Kampus Tenggilis Universitas Surabaya Jalan Raya Kalirungkut Surabaya.

Wayang Potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang berasal dari Tiongkok bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara pada masa lampau dan telah menjadi salah satu jenis kesenian tradisional Indonesia. Dulunya Wayang Potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik Tiongkok seperti legenda dinasti-dinasti yang ada di Tiongkok, terutama jika dimainkan di kelenteng. Akan tetapi saat ini Wayang Potehi sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik dan mulai mengemas cerita wayang menjadi lebih kreatif dan inovatif, salah satunya adalah Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang.

“Wayang Potehi pada perkembangannya dipakai sebagai sarana penyampaian nilai-nilai kemasyarakatan terutama akulturasi dan toleransi. Latar belakang kegiatan ini adalah kesamaan misi dari Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang dengan visi Ubaya untuk senantiasa mensosialisasikan keberagaman dan semangat multikultur,” ungkap  Ir. Hudiyo Firmanto, M.Sc., Ph.D., selaku Wakil Rektor III Universitas Surabaya.

Drs. H. Saifullah Yusuf atau Gus Ipul selaku Wakil Gubernur Jawa Timur akan membuka acara dan menyampaikan pesan budaya tentang “Akulturasi dan Toleransi di Indonesia”. Eko Cipto sebagai pengurus dari Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) akan berbicara tentang “Peranan PEPADI dan Perkembangan Wayang di Indonesia, Kini dan Esok”. Rembug Budaya yang dimoderatori oleh Ir. Hudiyo Firmanto, M.Sc., Ph.D. akan menghadirkan Dwi Woro Retno Mastuti, S.S., M.Hum., selaku pendiri dari Rumah Cinta Wayang dan Sinarto, selaku Ketua PEPADI Jawa Timur.

Terdapat 3 Pergelaran Wayang Potehi yang akan ditampilkan oleh sanggar budaya yang berbeda, yaitu

  1. Sanggar Fu He An dari Gudo, Jombang,
  2. Grup Lima Merpati dari Surabaya,
  3. Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang dari Depok.

Masing – masing penampilan Wayang Potehi berdurasi 30 menit. Sanggar Fu He An dan Grup Lima Merpati akan membawakan kisah klasik Tiongkok, sedangkan Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang akan membawakan cerita yang lebih kreatif dan inovatif.

“Saya sangat berterima kasih kepada Ubaya, sebagai lembaga pendidikan yang besar mau mengapresiasi kami dan mau bekerja sama dalam upaya mengembangkan kreativitas Wayang Potehi supaya bisa diterima dan memiliki peran dalam masyarakat,” jelas Dwi Woro Retno Mastuti, S.S., M.Hum., selaku pendiri dari Rumah Cinta Wayang.

Acara yang diikuti oleh sekitar 150 peserta ini merupakan upaya pelestarian wayang potehi dan mengemas wayang menjadi lebih kreatif. Selain menjadi sarana silaturahmi bagi para seniman Wayang Potehi, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali Wayang Potehi pada masyarakat Indonesia, terutama Jawa Timur. Hal ini dikarenakan Wayang Potehi banyak hidup di Jawa Timur dan merupakan ikon akulturasi dan toleransi.

(eli)

LEAVE A REPLY