WISUDA KE-72 UK PETRA: Luluskan 1.036 Wisudawan

WISUDA KE-72 UK PETRA: Luluskan 1.036 Wisudawan

132
0
BERBAGI

Surabaya, (M.Sindoraya) – Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya akan melepas sebanyak 1.036 mahasiswa dalam prosesi wisuda ke-72 yang akan digelar selama dua hari berturut-turut mulai hari Jumat-Sabtu tanggal 25-26 Agustus 2016. Perhelatan wisuda ke-72 ini akan dipimpin langsung oleh Prof. Rolly Intan M.A.Sc., Dr.Eng selaku rektor UK Petra di Auditorium UK Petra kampus Timur, jalan Siwalankerto 142-144 Surabaya. Pelaksanaan wisuda ke-72 terdiri dari mahasiswa program strata satu (S1) sebanyak 1.008 mahasiswa/i dan program pasca sarjana (S2) sebanyak 28 mahasiwa/i.

Prosesi ini menghasilkan 9 wisudawan cumlaude program S-2 dan 210 wisudawan cumlaude S-1. Wisudawan dari program S-1 yang berhasil meraih predikat cumlaude dengan IPK tertinggi 3,98 berhasil digenggam oleh Helena Lorentia, seorang mahasiswi Program English for Creative Industry dengan judul Tugas Akhirnya bertajuk Cheated: A Psychoanalysis On A Transgender Person sedangkan Daniel Christian Hartono dari Magister Manajemen berhasil memperoleh IPK 3,93 dengan judul skripsi “Dampak Reputasi dan Determinannya Pada Kinerja Perusahaan di Indonesia”.

Berikut beberapa profile wisudawan ke-72 UK Petra :

  • Raymond Gunawan

Semanggi. Salah satu makanan khas kota Surabaya berbahan dasar daun semanggi dan ketela yang mirip dengan pecel ini mampu menjadi daya tarik wisatawan asing maupun wisatawan domestik. Sehingga tak heran, muncul inovasi baru semanggi yang dikeringkan. Akan tetapi sering kemasannya dibuat seadanya saja sehingga kurang menarik. Maka dari itu, mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang memiliki IPK 3,95 ini membuat Tugas Akhirnya bertajuk           Perancangan Desain Kemasan Semanggi Instan Merek “Kampung Semanggi” sebagai Oleh-Oleh Khas Surabaya.

“Sebagai orang Surabaya, saya ingin turut berkontribusi kemajuan kota kelahiran saya, dengan turut membantu UKM yang ada di Surabaya. Selain itu, produk inovasi dari makanan khas Surabaya semanggi instan ini merupakan produk yang memiliki peluang yang besar untuk menjadi alternatif oleh-oleh khas Surabaya yang baru sehingga sangat perlu dibuat sebuah perancangan kemasan untuk memaksimalkan tampilan produk dan mendukung pengenalan serta promosi produk semanggi instan tersebut kepada masyarakat, baik dalam maupun luar negeri”, urai pria yang lahir 6 Agustus 1995 ini. Kemasan ini sangat unik sebab mengedepankan konsep sustainabilitas. Kemasan yang telah habis dikonsumsi dapat diubah menjadi bingkai foto dengan mengikuti instruksi yang ada.

  • Elisabeth Kathryn

Pasar Tradisional Vertikal di Genteng Surabaya, itulah judul TA yang dibuat oleh mahasiswi Program Studi Arsitektur peraih IPK 3,93. Gadis yang hobi bermain musik saxophone ini tergelitik untuk membuat pasar genteng menjadi icon baru pasar wisata di Surabaya. Mengapa vertical? Sebab hemat lahan, sistem utilitas bangunan efektif, pencahayaan dan penghawaan dapat diatur secara pasif. “Sebenarnya ada stand kosong di area tengah tapi ternyata para pembeli enggan membeli barang di pedagang area tengah dikarenakan gelap dan pengap. Dan berdasarkan survey acak, para pedagang mengharapkan pasar genteng di perbaharui agar lebih nyaman”, urai gadis yang akan berangkat ke Taiwan melanjutkan studinya ini.

Uniknya dalam desain ini pasar dan parkir dijadikan dalam satu gedung dengan menggunakan dua spiral utama yaitu spiral pasar dan parkir. Akan tetapi sirkulasinya pada dasarnya terpisah, namun saling interlocking sehingga pencapaian parkir-pasar dan sebaliknya mudah. Totalnya akan ada 18 lantai dalam desain pasar genteng yang baru ini. Elisabeth tidak mengesampingkan kemudahan sirkulasi barang dagangan dan mendukung terjadinya interaksi sosial.

  • Michelli Wirahadi

Berawal dari rasa ingin tahu yang besar inilah yang akhirnya menghantarkan gadis kelahiran Ujung Pandang ini membuat karya inovatif dari limbah sampah. Karya TA mahasiswi Program Studi Desain Interior (DI) diberi judul Elemen Interior Berbahan Baku Pengolahan Sampah Styrofoam dan Sampah Kulit Jeruk berhasil meraih nilai A.

“Saya mencoba gabungkan sampah styrofoam dan kulit jeruk untuk menjadi barang yang bernilai tinggi dari pada sampah-sampah itu tidak dapat diuraikan secara maksimal. Karena saya ingin agar masyarakat luas pun dapat membuatnya maka saya menggunakan bahan-bahan pendukung yang ramah lingkungan, mudah didapatkan dan bisa dilakukan siapa saja seperti tepung kanji, garam, gliserin, air dan lain-lain”, urai gadis yang memiliki IPK 3,58. Produk yang dihasilkan oleh Michelli ini berupa 3 buah panel partisi dengan ukuran 0,8 meter x 1,8 meter. Bahan baku yang dihasilkan dari eksperimen ini sifatnya ringan, memiliki sifat transparan, mudah dipotong, fleksibilitas yang baik dan cukup kaku. “Proses aplikasinyapun sangat mudah cukup disekrup, direkatkan menggunakan lem hingga dipaku”, tutup mahasiswi kelahiran 14 Februari 1996.

  • Tirza Amelia Hartono

Bullying. Kasus penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk mengintimidasi orang lain semakin marak dilakukan bahkan dimulai sejak anak usia Sekolah Dasar (SD). “Setelah saya melakukan riset bahwa salah satu pencegahan bullying dengan meningkatkan self-esteem si anak agar kelak tak jadi pelaku maupun korban bullying”, urai gadis kelahiran Surabaya. Maka dari itu mahasiswi Program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) peraih IPK 3,57 ini membuat karya TA bertajuk Perancangan Buku Interaktif dalam Meningkatkan Self Esteem Sebagai Upaya Pencegahan Bullying Pada Anak Usia 7-9 Tahun.

Anak usia 7-9 tahun memiliki kecenderungan untuk mudah bosan namun sangat mudah fokus kepada hal yang menurut mereka menarik. Buku Interaktif sebanyak 25 halaman dengan ukuran 20 cmx20 cm ini terdiri dari 1 set cerita mengenai self esteem. Tersedia juga alat peraga yaitu wayang mini dan kegiatan tulis menulis sehingga tidak membosankan.

  • Stella Dewi

Multifungsi, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan karya TA mahasiswi Program Studi Desain Interior tersebut. Tak heran ia mendapatkan nilai A untuk karya TAnya yang bertajuk Perancangan Furniture Set untuk Aktifitas di Ruang Keluarga pada Area Hunian. “Dalam sebuah rumah, ruang keluarga seringkali tidak mendapat perhatian bahkan tak jarang didesain asal-asalan. Padahal ruang keluarga merupakan pusat dari rumah dimana semua anggota keluarga dapat duduk bersama dan menjadi pusat aktivitas penghuni rumah sekaligus mendapatkan hiburan”, urai gadis pemilik IPK 3,55.

Stella menciptakan perabot yang disesuaikan dengan berkembangnya sebuah keluarga yaitu 3 alternatif desain set furniture terdiri atas sofa, coffe table dan side table. Sofa ini dapat dirubah menjadi sofabed menyesuaikan bentukan dan ukuran ruang. Sedangkan Coffee table yang dibuat bisa beralih fungsi untuk memfasilitasi aktivitas gerak anak. Dimulai dari anak belajar berdiri dan berjalan (anak usia 8-9 bulan). Side table yang dibuat berupa bentukan kotak tertutup dengan roda pada bagian bawahnya, jika tutup side table dibuka maka bisa menjadi cradle dan baby walker.

(nawi)

LEAVE A REPLY