Ketua KY : Penegakan Hukum, Wajib didukung dengan Etika

Ketua KY : Penegakan Hukum, Wajib didukung dengan Etika

57
0
BERBAGI
.
.
.
.
.
.
SURABAYA (M.Sindoraya) – Perkembangan Penegakan hukum di Indonesia wajib didukung dengan Etika. Bahkan, etika sudah semestinya dijadikan landasan jati diri bangsa Indonesia, ujar Ketua Komisi Yudisial (KY) Pusat Prof.Dr. Aidul Fitriciada Azhari, SH.M.Hum saat menjadi narasumber workshop “Perbuatan Merendahkan Kehormatan dan Keluhuran Martabat Hakim dalam Perspektif Etika dan Hukum” di Hotel Santika Jl. Raya Gubeng Surabaya, Jumat (25/8/2017).
“Saat ini penegakan etika tengah digagas untuk menguatkan penegakan hukum. Namun penting untuk dipahami, etika juga berangkat dari dogma-dogma agama, sehingga untuk menegakkan hukum penting untuk memahami dogma-dogma agama sebagai dasar dari etika yang menjadi landasan jati diri kita,” ujar Aidul di hadapan peserta dari unsur akademisi, LSM, dan wartawan.
Dalam konteks menjaga kehormatan hakim dan pengadilan, lanjut dia, pentingnya masyarakat juga memiliki etika dan menaati peraturan, sehingga perbuatan merendahkan kehormatan hakim dan pengadilan dapat dihindari.
“Teknologi informasi mengubah gaya hidup masyarakat terutama dalam bersosial media. Namun hal ini perlu kita ketahui untuk dipahami adalah masyarakat perlu tahu bahwa proses peradilan wajib untuk dihormati, sehingga hal-hal yang dapat mengintervensi putusan hakim dapat dihindari,” tutur Aidul.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan III Universitas Airlangga Surabaya Dr. Radian Salman SH.LL.M menjelaskan, kesadaran merupakan hal yang sulit untuk dilakukan oleh masyarakat.
“Menumbukan kesadaran masyarakat itu sulit dan luar biasa untuk dapat mengubah perilaku masyarakat. Salah satu contoh komentar-komentar yang dapat mengganggu proses peradilan di sosial media apabila menyerang atau mengintervensi hakim. Alih-alih hal itu terjadi karena kebebasan berekspresi karena negara kita ini demokrasi, tentu setiap individu bebas berpendapat,” ungkap Radian.
Sementara itu Wakil Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya Miftah Farid menyoroti etika dan kode etik profesi. Hal itu penting dijaga bukan hanya pihak luar saja, tetapi yang lebih penting dari faktor internal.
“Yang lebih penting dalam menjaga etika dan kode etik profesi adalah dari diri hakimnya sendiri. Karena hal itu juga sama yang dilakukan oleh kami sebagai jurnalis. Kami sangat menentang berita hoax karena melanggar kode etik profesi. Namun tetap saja masih ada oknum yang mengabarkan berita hoax,” tandas Farid.
(nawi)

LEAVE A REPLY