Dua Kali Mangkir, Akhirnya Sun’ah Ditahan 

Dua Kali Mangkir, Akhirnya Sun’ah Ditahan 

274
0
BERBAGI
.
.
.
.
.
.

 

Lamongan(sindoraya) –

Dua kali mangkir dari panggilan setelah ditetapkannya sebagai tersangka dugaan penyelewengan Bantuan Operasional Siswa (BOS) tahun 2012-2016 oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan (25/07) lalu. Akhirnya Sun’ah selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Propinsi Jatim wilayah Lamongan, di tahan Selasa, (29/08).

Selama hampir 5 jam, Sun’ah didampingi kuasa hukumnya Wellem Mintarja, menjalani pemeriksaan di ruangan penyidik Kejari Lamongan. Hingga pukul 15.30 wib, tersangka keluar dengan menggunakan rompi tahanan dan langsung dibawa menggunakan mobil tipikor ke tahanan lapas Lamongan.

“Nanti kami akan mengajukan penangguhan, karena kondisi klien kami masih lemas. Tadi juga sempat mengeluh perutnya sakit,” kata Wellem, kuasa hukum Sun’ah, di kantor Kejari Lamongan usai mendampingi kliennya (29/08).

“Yang perlu dicatat, klien kami bukan kuasa pengguna anggaran dan juga bukan penanggung jawab anggaran. Yang jadi pertanyaan, usulan angka 100 rupiah itu darimana. Nanti kami akan buktikan. Yang jelas klien kami tidak tahu 100 rupiah itu darimana dan untuk apa,” imbuh Wellem

Sementara itu, Taryoko Budianto, Kasi Intel Kejari Lamongan, menerangkan, “Dari hasil pemeriksaan dengan 27 pertanyaan, akhirnya kami memutuskan untuk menahan tersangka, atas kasus dugaan penyelewengan Dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) dengan kerugian sebesar 240 juta rupiah, dari hasil pungutan sebesar 100 rupiah yang pengakuannnya untuk biaya operasional. Tapi apakah ada pihak lain yang terlibat, nanti semuanya dibuktikan dan dijelaskan lewat persidangan ,” kata Budianto, Selasa (29/08).

“Soal penangguhan itu hak tersangka. Kalau memang alasan dan disertai dengan dukungan yang kuat, bisa-bisa saja,” imbuhnya

Sebelumnya, kepala cabang Dinas Pendidikan Propinsi Jatim wilayah Lamongan tersebut, ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejari Lamongan, dalam kaitan dugaan penyelewengan dana BOS tahun 2012-2016, (25/08). Menyusul tersangka yang lain yakni Asmuni, selaku kepala UPT. Dinas Pendidikan Lamongan.

Tersangka sempat mangkir dari 2 kali panggilan Kejari dengan alasan sakit. Bahkan dirinya sempat melawan dengan mengajukan pra peradilan lewat kuasa hukumnya di kantor Pengadilan Lamongan (14/08).

Namun tak lama kemudian, Sun’ah yang di wakili oleh kuasa hukumnya, menyerah dan mendadak mencabut gugatan pra peradilan tersebut dengan alasan proses dinamika hukum, (21/08).

“Tersangka dijerat UU Tipikor, Pasal 12e atau 11 jounto 18 huruf B, dengan ancaman hukuman selama 4 tahun dan 1 tahun penjara,” terang Budianto

(suf)

LEAVE A REPLY