Pakde Karwo: Pancasila Harus Menjadi Working Ideology

Pakde Karwo: Pancasila Harus Menjadi Working Ideology

39
0
BERBAGI
Gubernur Jatim Soekarwo menjadi Irup Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Gedung Grahadi Sby

 

Surabaya (M.Sindoraya) – Pancasila harus menjadi working ideology yakni sebuah ideologi yang bekerja dan menjadi panduan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya, bila disparitas kian melebar, maka Pancasila sebagai working ideology harus kembali mengupayakan keadilan.

Pandangan tersebut disampaikan Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo, usai menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2017 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (1/10) pagi.

Pakde Karwo, sapaan lekat Gubernur Jatim mencontohkan pengejawantahan lain konsep working ideology di Jatim. Dalam upaya mengembalikan konsep keadilan bagi masyarakat, salah satunya dengan membantu pihak yang kecil dan memfasilitasi suku bunga murah bagi pihak menengah. “Inilah bentuk working ideology bagaimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terwujud,” terangnya.

Menurutnya konsep ini jelas, yakni adil dulu baru makmur. Seperti dalam hal penguasaan tanah dan penguasaan asset. “Dalam UUD sudah jelas, hal yang menjadi kepentingan umum diatur Pemerintah dalam pasal 33,” ujarnya.

Pakde juga menggarisbawahi isu paling krusial tentang Pancasila saat ini. Problem yang dihadapi bangsa saat ini bukan kuat atau lemahnya Pancasila, lanjutnya, tetapi bagaimana mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dalam upaya mencapai keadilan harus dilakukan dengan pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat, mengamalkan nilai-nilai persatuan, serta pandangan yang lebih humanis. “Kemudian meletakkan kemanusiaan dalam bagian penting karena kausa primanya adalah sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa”, terangnya.

Makna Kesaktian Pancasila

Dalam kesempatan ini, Pakde mengajak masyarakat menarik pembelajaran dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Menurutnya, proses sejarah menjadikan bagian bahwa pandangan hidup dan filsafat bangsa yang diangkat dari nilai- nilai Pancasila harus dipertahankan oleh siapapun.

Suatu negara, lanjutnya, bila ingin makmur harus memiliki dua nilai, pertama keadilan dan kedua soal kebudayaan. Indonesia tidak hanya masalah kebudayaan tetapi masalah spiritual menjadi nilai utama seperti tertuang dalam sila pertama Pancasila. “Tidak seperti negara lain Cina dan Korea yang menempatkan kebudayaan, justru Indonesia menempatkan spiritual di poin pertama. Ini menjadi kausa prima,” tegasnya.

Menjawab pertanyaan wartawan terkait kebangkitan paham komunis, Pakde Karwo menjawab bahwa sebuah ideologi atau paham apapun dan dimanapun tidak bisa mati. Seperti halnya paham liberalisme dll yang tidak akan mati. Komunisme di Indonesia sudah jelas dilarang. Sudah ada regulasi yakni TAP MPR yang mengatur pembubaran organisasi PKI ini, sehingga secara wadah tidak ada ruang untuk tumbuh.

Soal adanya pihak-pihak yang menyampaikan kebangkitan komunisme, menurutnya bisa saja, tapi dari segi organisasi tidak mungkin karena sudah jelas dilarang. “Kapasitas saya bukan seorang intelijen, tapi bila masyarakat ada yang melihat silahkan saja untuk melapor,” jelasnya sambil mengibaratkan komunisme sudah ibarat gelandangan karena sudah tidak memiliki rumah dan tidak bisa makan lagi.

Berjalan Khidmad

Upacara berjalan tertib dan khidmad di bawah komandan upacara, Letkol Marinir Muhammad Nur Rohman yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Batalyon Komplek 1 Marinir. Sedangkan, sebagai Perwira Upacara adalah Mayor Polisi Militer Agus Budi Hariyono yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubgar 0812/Lamongan. Tema Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2017 yakni “Kerja Bersama Berlandaskan Pancasila Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur”.

Para undangan dan seluruh peserta mendengarkan dengan khidmad pembacaan ikrar oleh Ketua DPRD Jatim, Abdul Halim Iskandar. Pembacaan pembukaan UUD 1945 oleh Ryska Setiari Putri, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama dan sebagai pembaca doa adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jatim, Drs. H. Syamsul Bakhri, M.Pd.

Di mimbar kehormatan, nampak hadir isteri Gubernur Jatim Dra. Hj. Nina Soekarwo, MSi, Wakil Gubernur Jatim Drs. H. Saifullah Yusuf beserta isteri Dra. Hj. Fatma Saifullah Yusuf, Sekdaprov Jatim Dr. H. Akhmad Sukardi, MM beserta Isteri Hj. Chairani Yuliati Akhmad Sukardi, S.Sos, beserta jajaran Forpimda Jatim dan isteri dan pejabat di lingkungan Pemprov Jatim. (dewi/nawi)

LEAVE A REPLY