Even WIFT, Warga Widi Dilantarkan

Even WIFT, Warga Widi Dilantarkan

57
0
BERBAGI
Di Bangun Rumah Untuk Tempat Tinggal, Akibat Rumah Warga Sebelumnya Di Bongkar Saat Even WIFT Yang Bersakala Internasional

 

Maluku Utara, (M.Sindoraya.com)  Perhelatan Event Widi Internasional Fhising Turnament  (WIFT) yang diselenggarakan di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), mengorbankan rumah warga yang sudah bertahun-tahun bermukim di Pulau Widi. Perlakuan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Halmahera Selatan seakan-akan tidak memikirkan nasib para warga tersebu.

Buktinya sebanyak 15 Kepala Kelauraga yang memiliki rumah digurus habis secara paksa oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan Pemerintah Provinsi Malut menjelang persiapan event yang dianggap berskala  internasional.  Selain digusur, sebagian rumah warga yang berlantai dan berdiding papan juga dibakar ludes.

Untuk mendapatkan tempat berteduh, sebanyak 15 KK kembali membangun gubuk untuk mempertahankan kehidupan meraka sehari-hari,bahkan saat tidur pada malam hari rela beralasakan Terpal. Hidup di gubuk seperti orang yang tidak memiliki apa-apa, padahal mereka itu memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Hidup di gubuk kurang lebih satu minggu, setelah itu warga tersebut membangun dengan modal ganti rugi dari pemerintah senilai Rp 10 juta per KK akan tetapi hingga saat ini belum juga selesai.

Salah satu warga yang brdomisili di Pulau Widi, Rahiya saat dihampiri reporter Media Sindoraya, mengatakan, awalnya Pemerintah Kabupaten Halsel meminta rumah warga yang berada di Pulau Wid segera di bongkar demi terlaksananya even Widi karena di anggap menijikan dengan menjanjika akan membangun rumah baru sebalum dilakukan pembongkaran. Namun, sebelum di bangun langusng dibongkar paksa dan dibakar.

“Pemda Halsel janji akan bagun rumah baru lebih dulu kemudian dilakukan pembongkaran, tetapi sampai rumah di bongkar tidak ada pembangunan rumah baru,” katanya.

Janji  serupa juga dilontarakan Pemerintah Provinsi Malut kepada warga 15 KK untuk membangun rumah baru, pasca dilakukan pembongkaran. Tetapi tidak bangun runah baru melainkan hanya diberikan uang senilai Rp 10 juta.  “Kami menuntut harus diganti, sehingga kami diberikan uang senilai Rp 10 juta per KK.

Meski begitu lanjut Rahiya, uang tersebut tidak mencukupi kebutuhan untuk pembangun rumah  baru. Kebutuhan pembangunan rumah berupa papan dan balok sangat mahal.“ Kami beli papa dan balok di kampung, saat ini kayu balok dan papan harganya sudah mahal per kubik ada senilai Rp 1,5 juta. Blum lagi kami harus sewa katinting  memuat balok dan papan. Jadi bagi kami uang senilai Rp 10 juta tidak cukup membeli bahan-bahan pembangunan rumah baru,”imbuhnya.

Hal yang sama juga disampaikan Haji Hasim, salah satu warga Widi mengatakan,  yang sudah empat tahun menetap di pulau Widi. Pasca Pensiun dari Pegawai negeri sipil, saya memilih menetap di pulau ini, dengan membangun rumah di tepi pantai,  namun rumah saya di bongkar oleh pemerintah, dengan janji dibangun kembali rumah kami namun sampai saat ini, pemerintah tak kunjung membangun rumah kami tapi mengganti rugi dengan uang 10 juta.

Mantan Kepala Puskesmas Gane Luar ini menambahkan, Perjanjian dibangun kembali rumah, pemerintah provinsi melalui Dinas Perkim Provinsi Malaut, namun hingga kini tidak kunjung di bangun sehingga kami harus membuat rumah darurat berdinding papan, beratap terpal dan beralaskan tanah.

Pria paru baya yang kesehariannya bekerja sebagai nelayan dan menjual ikan asin ini, mengisahkan kehidupannya pasca rumahnya dibongkar oleh pemerintah, setiap malam dirinya harus tidur beralaskan Tikar dengan menahan udara dingin, dan pada siang hari harus tingal di bawa pohon kerena sibagian atap rumahnya belum terpasang atap, (ces)

LEAVE A REPLY