BANK BTN MELAKUKAN PENIPUAN PADA DEBITURNYA

BANK BTN MELAKUKAN PENIPUAN PADA DEBITURNYA

263
0
BERBAGI

BANK BTN BANYUWANGI, MENIPU ?

 

Rumah tinggal merupakan kebutuhan pokok manusia setelah kebutuhan sandang dan pangan. Kebutuhan akan rumah tinggal tidak akan pernah berhenti sepanjang masa, selama masih ada manusia dilahirkan dan seiring mengikuti laju pertumbuhan penduduk. Akibatnya, lahan produktif kian lama akan berubah fungsi menjadi pemukiman penduduk. Hal ini sudah terlihat baik di perkotaan maupun di pedesan.
Di wilayah perkotaan lahan-lahan produktif milik penduduk, baik sawah maupun ladang sedikit demi sedikit berubah menjadi pemukiman, baik yang dibangun sendiri penduduk atau yang dibangun oleh para pengembang pemukiman.

Karenanya, tidaklah heran apabila harga rumah di perkotaan semakin mahal dan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah. Begitu pula harga tanah untuk membangun rumah setiap tahun selalu meningkat. Sehingga memunculkan banyak penawaran kredit rumah dari berbagai pihak.
Akan tetapi, apakah dalam proses kredit pembelian rumah yang banyak ditawarkan para developer dan bank KPR benar benar aman dan mudah serta jujur seperti promo yang mereka gencarkan ?

Faktanya, harapan untuk memiliki rumah tinggal idaman nampaknya seperti mimpi buruk bagi beberapa warga di perumahan Garuda Regency Banyuwangi. Akad jual beli secara kredit untuk rumah yang telah mereka ajukan ke BTN Banyuwangi menuai kekecewaan dan tanda tanya besar tentang kredibilitas kinerja bank BTN atas raib nya sertifikat tanah rumah yang setiap bulan mereka angsur cicilannya.
Ironisnya, pihak bank BTN menyatakan ketidaktahuan keberadaan sejumlah sertifikat yang dipertanyakan sejumlah warga perumahan Garuda Regency di kantor bank BTN Banyuwangi beberapa hari kemarin.

Sejumlah warga perumahan Garuda Regensi di Kecamatan Giri kabupaten Banyuwangi itu sangat kecewa dengan ‘ulah’ Bank BTN yang diduga lalai menyimpan sertifikat perumahan yang secara sistemik telah jaminkan oleh kreditur dari perumahan tersebut sewaktu akad transaksi kredit diteken.

Saleh SH, kuasa hukum sejumlah warga di perum Garuda Regency mengatakan bahwa ada salah satu kreditur yang sudah melakukan pembelian secara kredit diperumahan Garuda Regensi dimana bank BTN sebagai finance nya, pada saat hendak melakukan pelunasan tak disangka ternyata sertifikat tanah yang di beli secara nyicil tak bisa ditunjukan oleh Bank BTN.

 

“Salah satu klien saya merasa tertipu dengan BTN selaku finance dalam jual beli secara kredit perumahan Garuda Regensi, karena saat hendak di lunasi sertifikat rumahnya tak ada,” ucap Saleh SH. Jum’at (1/12/2017)

“ Seingat saya hari rabu kemarin saya beserta klien mendatangi kantor BTN. Tanggapan mereka seolah tak tau persoalan ini, malah justru akan melakukan jalur hukum terhadap pengembang dan notaris karena sertifikatnya ada di orang ke tiga. Ini kan aneh,” paparnya.

Lebih lanjut Saleh mengungkap bahwa di perumahan tersebut terjadi kejanggalan pada dua warga yang terlambat membayar angsuran beberapa bulan yang tiba tiba mendapatkan surat lelang perumahan yang tidak di lengkapi setempel dari bank BTN.

“Itu kan gak betul, mengeluarkan surat lelang tanpa di lengkapi stempel, apa itu sah,” tanyanya.

 

Ketua LKBH Untag ini berharap, BTN Banyuwangi lebih terbuka dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kliennya. Karena pada prinsipnya UU perlindungan konsumen pasal 8 ayat 1 huruf F junto pasal 62 ayat 1 bisa berimplikasi pidana.

 

Sementara itu, dari salah satu kreditur yang enggan di sebutkan namanya menuturkan kehawatirannya terhadap BTN, lantaran selama ini merasa melakukan perjanjian jual beli dengan BTN dan developer.

 

“ Kami bayar angsuran di BTN. Dan ketika kami berniat membayar pelunasan di BTN, kok sertifikatnya ada di orang lain (pihak ke tiga-red), Gimana ini ? Promosinya saja hebat. namun kenyataannya begini,” keluhnya dengan polos.

 

Hingga berita ini diunggah, awak media masih kesulitan dalam melakukan konfirmasi tehadap pihak BTN Banyuwangi sebagai perimbangan berita terkait kebenaran kabar tak sedap itu agar tidak terjadi keresahan di masyarakat yang rindu memiliki rumah tinggal idaman. (R2R/Tim)

LEAVE A REPLY